Curug Leuwi Hejo: Surga Tersembunyi untuk Backpacker Hemat

Masih jelas di ingatan saya, pertama kali dengar tentang Curug Leuwi Hejo dari teman yang tinggal di Bogor. Katanya, air terjun ini punya kolam alami dengan air hijau toska yang jernih, mirip lukisan. Penasaran, saya ajak keluarga kecil saya dari Tangerang Selatan akhir pekan lalu. Perjalanan cuma sekitar dua jam, tapi sensasinya kayak nemuin dunia lain. Nggak perlu modal gede, cukup semangat jalan kaki dan bekal camilan.
Menikmati Curug Leuwi Hejo, Surga Tersembunyi di Bogor
Setelah parkir di area Sentul Paradise, kami jalan sekitar 30 menit menuruni anak tangga. Sepanjang jalur, rimbun pohon pinus dan suara gemericik sungai kecil menemani. Begitu tiba, hamparan air hijau kebiruan langsung menyambut. Genangan airnya nggak terlalu dalam, aman buat anak-anak asal tetap diawasi. Saya dan suami duduk di bebatuan tepi, sementara si kecil asyik bermain air. Tiket masuknya cuma Rp15.000 per orang, ramah banget di kantong. Sayangnya, akhir pekan lumayan rame. Kalau pengen lebih tenang, saya sarankan datang hari kerja.
Setelah puas berenang, kami mampir ke warung sederhana dekat pintu masuk. Es kelapa muda dan pisang goreng hangat jadi pelepas dahaga. Semua pedagang lokal ramah, harga masih wajar. Saya sempat ngobrol sama salah satu penjual yang bilang kalau curug ini mulai dikenal sejak 2020, tapi pesona alamnya tetap terjaga. Buat yang suka tantangan ringan, ada jalur tracking ke curug kedua di atasnya, tapi pastiin kondisi fisik oke.
Pulang ke rumah, saya merasa perjalanan singkat ini kayak hadiah. Alam Indonesia emang nggak pernah habis kasih kejutan. Curug Leuwi Hejo buktiin kalau liburan hemat bukan berarti kurang kualitas. Cukup keluar dari Tangerang Selatan sejam lebih, kita udah bisa nikmatin segarnya air pegunungan. Saya udah rencanain kunjungan kedua, kali ini pengen coba camping di sekitar. Siapa tau kamu juga tertarik? Jangan lupa bawa kantong sampah sendiri, ya. Mari jaga destinasi alam kita tetap bersih dan indah buat generasi berikutnya Variasi kasusnya saya kupas di destinasi.

Untuk konteks lebih: sumber resmi